Melirik Pendidikan Anak-Anak Muslim di Jepang

Tour Travel dan Rental Mobil Pekanbaru - Pendidikan Agama Islam, terutama tauhid adalah hal yang teramat penting untuk diajarkan kepada anak sejak dini yang diperoleh dari keluarga sebagai tempat utama anak tumbuh dan berkembang, sekolah, serta masyarakat sekitarnya.

Namun, di Jepang, anak-anak Muslim tidak bisa mendapatkan pendidikan agama Islam di sekolah umum yang bahkan juga tidak mengajarkan pendidikan agama lainnya. Lingkungan yang sekuler, jauh dari nilai-nilai Islam, membuat para keluarga Muslim harus berusaha lebih keras untuk mengenalkan nilai-nilai KeIslaman kepada anak-anak mereka. Inilah yang saya temui semenjak kedatangan saya ke Nagoya, Jepang setahun silam.

Meskipun pendidikan Islam tidak diajarkan di sekolah, para orang tua tidak pernah kehabisan akal untuk mendidik anak-anak mereka dalam suasana ke Islaman di rumah mereka. Di antaranya dengan membiasakan membacakan cerita Muslim bagi anak-anak mereka sebelum tidur. Uniknya, buku-buku cerita Muslim yang dimiliki keluarga Muslim di Jepang banyak berasal dari Indonesia dan Inggris. Seperti sebuh saja buku Muslim Mio yang juga populer di Indonesia. Namun, karena anak-anak tersebut mayoritas berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Jepang, sehingga penyampaian cerita biasanya para orang tua menerjermahkan terlebih dahulu secara bebas.

Selain pendidikan di rumah, sebagian orang tua muslim juga membiasakan anak-anak mereka untuk pergi ke Taman Pendidikan Alquran (TPA) yang diadakan di masjid-masjid dan toko-toko penjual makanan halal di Jepang. Biasanya, anak-anak akan dibimbing oleh Imam masjid (sebagian besar berasal dari Mesir dibantu saudara-saudari dari Timur Tengah), ustaz/ ustazah asli Jepang yang pernah menempuh pendidikan Islam di Timur Tengah, serta banyak juga dari Indonesia dan negara-negara Muslim lainnya.

Tak hanya di Indonesia, di Jepang pun ada pesantren kilat khusus anak-anak. Pesantren kilat yang saya bahas disini adalah salah satu bentuk dari program berdurasi satu hari yang diadakan Keluarga Muslim Indonesia (KMI) di Nagoya. Yang membuat berbeda, pesantren kilat KMI biasanya diadakan saat libur musim semi (Maret atau April) dan musim panas (Agustus dan September), bukan saat Ramadhan. Pesertanya pun tak hanya terbatas pada warga Indonesia atau Malaysia saja, banyak pula warga asli Jepang dan Timur Tengah yang mengikut sertakan anak-anaknya dalam kegiatan ini.


Annisa Firdaus Winta Damarsya
G30 Undergraduate Program Biological Science, School of Service
Nagoya University
Sumber Media Cetak : Republika, 3 November 2013, Halaman 14

0 komentar:

Posting Komentar