Tambora dan Kearifan Sumbawa

Masyarakat Bima mengabadikan letusan Gunung Tambora lewat Doro Tambora Ma Tambara. HILANGNYA tiga kerajaan kuno di Pulau Sumbawa akibat letus an Gunung Tambora telah membawa sebuah perubahan mendasar dalam tatanan masyarakat di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kejadian mahadahsyat itu diabadikan lewat seni pemanggungan tradisi. Mereka me ngenang buat menjaga nilainilai kearifan lokal.

Gunung tersebut terletak di dua kabupaten, yaitu Dompu dan Bima. Seniman Bima, Lewo Sape, 40, masih ingat betul cerita rakyat yang beredar dalam masyarakat setempat. Baginya, kisah letusan Gunung Tambora tidak hanya tercatat dalam sejarah, tetapi masih melekat dalam tatanan kehidupan masyarakat, terutama lewat hikayat, seni tari, dan sastra tutur.

“Ada hubungan antara letusan gunung dan sistem kepercayaan masyarakat. Itu bisa ditemukan lewat tarian-tarian yang ada di sekitar Tambora,“ ujar Lewo di acara Gelar Seni Budaya Bima di Jakarta, dua pekan lalu.
Tari-tarian yang ia maksudkan yaitu tarian sakral Mpa'a Asi (tarian yang berkembang di istana) dan Mpa'a Ari Mai Asia (tarian yang berkembang di luar istana).

Guna mengenang kejadian letusan Gunung Tambora di masa silam, Lewo bersama seniman, budayawan, dan sastrawan Sumbawa berhasil menafsir fenomena alam itu lewat sebuah drama kolosal Doro Tambora Ma Tambara.

“Dari data sejarah, ada tiga kera jaan yang hilang, yaitu Pekat, Tambora, dan Sanggar. Di sinilah, situs-situs sudah ditemukan para ahli. Ini yang membuat kami ingin mengangkat kembali kearifan lokal kerajaan-kerajaan itu lewat pertunjukan,“ paparnya.
Lewat pendekatan sosial kultural, para pelaku seni berhasil merekonstruksi kejadian itu. Meski sebagai pertunjukan, pada hakikatnya para seniman yang tergabung dalam Sanggar Pesisir itu mencoba menelaah dan menghadirkan kisah apik.
Drama itu tidak menghilangkan nilai-nilai adat dan budaya di masyarakat sekitar Gunung Tambora.

Data sejarah Merujuk pada data sejarah geologi, aktivitas vulkanis gunung berapi tersebut mencapai puncaknya pada 1815 ketika meletus dalam skala tujuh pada indeks letusan gunung berapi (volcanic explosivity index).
Letusan gunung itu terdengar hingga Pulau Sumatra (lebih dari 2.000 km). Abu vulkanis jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Maluku.

Letusan gunung itu menyebabkan kematian hingga lebih kurang 71 ribu orang dengan 11 ribu--12 ribu di antaranya tewas secara langsung akibat letusan tersebut.

Bahkan beberapa peneliti memperkirakan sampai 92 ribu orang terbunuh, tetapi angka itu diragukan karena berdasarkan perkiraan yang terlalu tinggi. Letusan gunung tersebut juga diyakini menyebabkan perubahan iklim dunia saat itu. Satu tahun berikutnya (1816) sering disebut sebagai `tahun tanpa musim panas' akibat perubahan iklim di Amerika dan Eropa akibat debu yang terbawa oleh angin.

Pada penggalian arkeologi 2004, misalnya, tim arkeolog menemukan sisa kebudayaan yang terkubur oleh letusan 1815 di kedalaman 3 meter pada endapan piroklastik.

Artifak-artifak tersebut ditemukan pada posisi yang sama ketika terjadi letusan. Keberadaan Gunung Tambora kini menjadi sebuah berkah. Hal itulah yang membuat seniman Bima pun mementaskan drama kolosal Doro Tambora Ma Tambara.
Meski disajikan sebagai sebuah seni pertunjukan, Lewo bersama sutradara A'an Sapoetra mampu menyajikan nilai-nilai tradisi yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat di sekitar Gunung Tambora.

“Hal-hal gaib dan mistis yang berkembang dalam masyarakat Bima masih ada. Inilah yang diyakini orang-orang dulu sebagai salah satu penyebab letusan Gunung Tambora hingga meluluhlantakkan semua kampung,“ ujar A'an.
Dalam tradisi di Bima, ada sebuah kepercayaan mistis yang masih berkembang hingga hari ini yang dalam bahasa lokal disebut parafu atau ma kakamba ma kakimbi.

“Mistis inilah yang dihubungkan karena saat itu raja dan masyarakat Tambora tidak memercayai Islam.
Ini sebagai sebuah peringatan Sang Kuasa lewat bencana alam sehingga membuat warga sadar akan ajaran Islam itu sendiri,“ terangnya.

Lewat drama kolosal itu, A'an mencoba `menghidupkan' kembali tradisi kerajaan yang hilang. Ia menggali data lewat wawancara dan pendekatan dengan tetua-tetua kampung.

“Drama kolosal ini diangkat dari data-data sejarah. Saya juga menggali dari tokoh-tokoh kampung,“ papar A'an.
Dalam kehidupan masyarakat Pulau Sumbawa, masih ada tradisitradisi yang bertahan, seperti ngurisan (memotong rambut bayi), upacara tunas ujan (meminta hu jan), rebak jangkeh (kegiatan berakhirnya hajatan), ngosak beras (mencuci beras), dan pengarat (penggembala sapi).

“Nilai-nilai yang ada dalam pen tas ini sebagai bentuk untuk menggali kembali budaya yang ada di sekitar Gunung Tambora. Ini berguna agar masyarakat bisa mengetahui seni tradisi kami,“ timpal Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bima Syafrudin H Ahmad. Lewat drama kolosal Doro Tambora Ma Tambara, para pelaku seni mencoba menampilkan kembali nilai-nilai kearifan lokal yang berakar dari kehidupan masyarakat di lereng Gunung Tambora secara sederhana, religius, dan mistis. (M-3) - Media Indonesia, 6 Juli 2014, Halaman 9

0 komentar:

Posting Komentar