Mozaik Etnisitas Minahasa

Manusia Minahasa masih berpegang pada budaya mapalus. Tidak hanya di daerah, tetapi juga terjaga hingga di negeri perantauan. HEMBUSAN angin Laut Pasifik terus menyapu gulungan ombak yang berkejar-kejaran. Langit tampak kuning keemasan selepas sang mentari tenggelam di ufuk barat. Satu per satu warga pun masih bersantai di Pantai Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, senja itu.

Tak begitu jauh dari bibir pantai, deretan warung berjejer. Patricia, 31, bersama beberapa temannya memesan pisang goreng plus dabu-dabu (sambal) yang khas rasanya. Jus jeruk dan minuman soda tak lupa mereka pesan bersama-sama. Tak berapa lama, Patricia memesan lagi setelah tergiur menengok daftar menu. Pilihannya, tak lain ialah ubur tinutuan atau populer disebut bubur manado.

Suasana santai senja begitu nikmat hingga dia dan teman-temannya kembali ke tempat penginapan. Keesokannya, ia bersama beberapa teman ikut bergotong-royong memperbaiki sekaligus menyumbang buku-buku pelajaran untuk beberapa sekolah yang ambruk akibat banjir awal tahun ini.

Lalu, Patricia pun melanjutkan aktivitas dengan menyaksikan Tari Maengket atas rekomendasi pemandu wisata di sebuah sanggar. Tarian tersebut mengisahkan kehidupan remaja suku Minahasa masa lalu kala mensyukuri panen hasil pertanian.

Kini Patricia sudah kembali ke Jakarta. Ia masih terngiang deburan ombak pantai saat melawat ke kampung halaman asal le luhurnya, sebulan silam. Suasana kekera batan bersua keluarga besarnya sangat membekas. Ia mengaku pertama kali ke sana kala usianya 12 tahun. Tak diayal, keberadaan orang Minahasa sangat ramah. Masyarakat selalu mensyukuri alam. Kehidupan gotong royong pun tecermin lewat suguhan seni seperti Tari Maengket. Ada sebuah filosofi orang Minahasa dalam menjaga kebersamaan, yaitu lewat budaya mapalus.

Budaya mapalus merupakan tradisi gotong royong masyarakat setempat dalam berbagai kegiatan, terutama di era masa silam, saat warga kampung berbondong-bondong memanen padi di sawah. Keberadaan mapalus dulu hingga kini masih terjaga. Proses gotong royong itu tercermin lewat lantunan lagu-lagu saat di sawah. Para remaja putri bernyanyi untuk menghibur para pekerja. Di era modern kini, mapalus mungkin sudah sedikit berkembang. Tradisi yang dahulunya dilakukan di sektor pertanian, kini sudah merambah ke berbagai sektor.

Semisal, kegiatan sosial-kemanusiaan saat terjadi bencana alam. Budaya gotong royong inilah yang membuat warga tetap hidup damai dan saling peduli. Menjadi satu Nama Minahasa sebagai satu daerah kewilayahan di utara Sulawesi berarti `Menjadi Satu'. Pertama kali muncul sejak 1790 pada musyawarah antara semua Kepala Walek. Istilah ini pun dikenal sebagai Dewan Kepala Walak etnik tradisional Minahasa (het landstreek van Manado).

Dewan itu mempersatukan delapan subetnik tradisional Minahasa. Kedelapannya, yaitu Tonsea, Tondano, Tombulu, Tontemboan, Tonsawang, Pasan, Ponosakan, dan Bantik. Kesatuan itulah cikal bakal muncul sebutan etnik Minahasa. Keberadaan orang Minahasa, baik yang ada di utara Sulawesi maupun di perantauan masih menjaga budaya mapalus. Sifat itu masih berakar lewat falsafah hidup, yaitu si tou timou tumou tou (manusia menjadi manusia untuk memanusiakan manusia).

Istilah itu yang digunakan mendiang Sam Ratulangi menjaga keutuhan orang Minahasa di zamannya.
Secara etimologi, tou berarti `orang' dan timou berarti `hidup', sedangkan tumou berarti `berkembang; tumbuh; mendidik'. Ungkapan itu bagi sebagian besar orang Minahasa dipandang sebagai cara pandang tou Minahasa tentang dirinya serta sesama manusia dalam tatanan hidup bermasyarakat. Prinsip itu penting karena menjadikan orang Minahasa sebagai makhluk sosial. Be gitu pula, sebagai individual hingga komunal dalam menempatkan diri dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Tou Minahasa mencakup mereka yang hidup di Minahasa, baik penduduk asli, berdarah campuran, maupun pendatang. Dari sejarah asal-usul manusia Minahasa tercatat bahwa masyarakat tradisional berasal dari daratan Tiongkok bagian selatan. Kisah itu dipopulerkan lewat drama musik Toar dan Mumimuut: Memanusiakan Manusia oleh Remy Sylado di Jakarta pada 2005.
Cendekiawan Mieke Komar K Palar mengatakan keberadaan orang Minahasa dalam berinteraksi dengan orang luar, terutama, orang Portugis dan Spanyol sangat kuat. Begitu pula berabad berikutnya saat bertikai dan berkolaborasi dengan orang Belanda, menunjukkan orang Minahasa tidak mengenal sistem feodalistis.

“Prinsip kesetaraan antar sesama sangat dipegang erat, demikian pula kesetaraan gender,“ ujarnya dalam sebuah diskusi kebudayaan. Dengan bercampur kebudayaan Barat yang cukup kental, terutama masyarakat menganut agama Kristen, rata-rata orang Minahasa juga disebut kawanua (penduduk negeri). Dalam literatur Belanda digambarkan orang Minahasa berkarakter individualistis, berani, terbuka, ramah, suka berpesta ria, dan patuh. Meskipun ada juga unsur individual negatif, yakni pengecut, keras kepala, rendah hari berkelebihan, dan kurang setia. Ada istilah untuk menggambarkan kurang setia itu, yaitu `cikar kanan vaya condios cari laeng'.

Tak hanya di dalam negeri, tersebarnya orang Minahasa di luar negeri, seperti di Amerika Serikat, Belanda, Kanada, dan Jerman, juga menjadi tantangan tersendiri. Bagi Mieke--perempuan yang pernah menetap di Amerika Serikat--budaya orang Minahasa masih kuat. Terutama, lewat mapalus. “Orang Minahasa mampu membaur diri di mana pun mereka berada. Si tou timou tumou tou menjadi pegangan sebagaimana budaya mapalus yang sudah ada secara turun-temurun,“ paparnya.

Mozaik orang Minahasa menjadi cerminan sebagian masyarakat Indonesia. Mereka hadir untuk melengkapi keragaman budaya yang ada di Tanah Air. Melekatnya budaya, baik bahasa maupun kuliner, menunjukkan orang Minahasa tidak pernah menghilangkan akar budaya.
Budaya mapalus mencerminkan jati diri orang Minahasa. Mereka menjaga erat ikatan kekeluargaan untuk saling hidup bergotong-royong secara kultural. Ini masih terasa lewat semboyan torang samua basudara atau kita semua bersaudara. (M-5) - Media Indonesia, 10 Agustus 2014, Halaman 8

0 komentar:

Posting Komentar